MENGENAL CAPUNG TWA GUNUNG PERMISAN

Fauna
Bagikan:
MENGENAL CAPUNG TWA GUNUNG PERMISAN

Capung dalam Ordo Odonata

Capung dikelompokkan ke dalam ordo Odonata. Odonata berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti "rahang bergigi" karena di bagian ujung labium (bibir bawah) terdapat tonjolan (spina) tajam menyerupai gigi. Capung merupakan serangga purba yang bertahan hidup dalam berbagai perubahan jaman, menunjukkan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Laily et al. (2018) menyatakan bahwa capung memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan di dalam ekosistem. Capung merupakan Flagship Species yang menjadi predator teratas dalam rantai makanan di ekosistem perairan (Buchori et al. 2019).

Capung berperan sebagai predator serangga-serangga kecil, bahkan memakan capung yang lebih kecil (Rahadi 2013 dalam Laily et al. 2018), sehingga dapat berperan sebagai penyeimbang populasi serangga lain (Subramanian 2005 dalam Wijayanto 2017).

Capung sebagai Bioindikator

Selain sebagai predator, capung juga dapat dijadikan sebagai bioindikator di suatu lingkungan perairan. Buchori et al. (2019) menyatakan bahwa capung tidak hanya digunakan sebagai bioindikator perairan bersih, akan tetapi capung dewasa juga merupakan indikator yang bagus untuk melihat perubahan kompleks suatu lanskap. Nimfa capung sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan (kimiawi perairan). Odonata hidup di perairan pada saat kondisi pra dewasa (nimfa), sehingga dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan atau sebagai agen untuk memonitor kualitas perairan. Hal ini karena Odonata termasuk serangga air yang sangat sensitif terhadap perubahan kandungan zat di dalam air (Rini 2011 dalam Wijayanto 2017).

Nimfa-nimfa capung yang memilki sensitivitas tinggi terhadap perairan akan mati dan keberadaannya di alam akan terancam punah (Kalkman 2008 dalam Laily et al. 2018). Sensitivitas mereka terhadap kondisi perubahan lingkungan membuat capung sangat baik sebagai indikator biologis kondisi lingkungan yang berubah. Hubungan capung dengan habitatnya sangat erat kaitannya dengan kepentingan fungsional mereka dalam ekosistem, dan hubungannya dengan spesies dan sumber daya lainnya.

Keanekaragaman Capung di Indonesia

Wijayanto (2017) menyatakan bahwa komunitas Odonata di suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh keanekaragaman jenis Odonata, kondisi lingkungan (faktor biotik dan abiotik), serta habitat yang beranekaragam. Tingkat keanekaragaman capung dan komposisi jenis pada masing-masing habitat dipengaruhi oleh kondisi tutupan vegetasi. Terdapat hubungan antara kondisi tutupan vegetasi dan komposisi jenis capung, yang mempengaruhi keberadaan dan sebaran capung dalam suatu habitat, dan dapat digunakan untuk menggambarkan kesehatan lingkungan terestrial non akuatik.

Capung ketika masih pra dewasa (nimfa) memiliki preferensi habitat yang tidak tercemar dan terdapat banyak vegetasi. Vegetasi sangat penting bagi Odonata karena digunakan untuk tempat meletakkan telur-telurnya (Rahadi et al. 2013 dalam Wijayanto 2017). Malmqvist (2002) dalam Fitria et al. (2019) menyatakan bahwa, preferensi habitat Odonata dewasa berbeda. Ada yang menyukai habitat dengan vegetasi cukup lengkap, sementara spesies yang lainnya tidak.

Jumlah Jenis Capung di Indonesia

Jumlah Odonata di dunia mencapai 5.680 dan jenis Odonata di Indonesia mencapai 900 species atau sekitar 15% dari populasi yang ada di dunia (Wardhana, 2016). Keanekaragaman capung di Indonesia diperkirakan mencapai 1.287 jenis dengan catatan 24 jenis merupakan jenis endemik (Widjaja et al. 2014). Jumlah ini diperbaharui oleh Indonesia Dragonfly Society (IDS) dalam Jambore Capung III pada tahun 2019 menjadi sejumlah 1.126 spesies. Odonata yang telah ditemukan diseluruh dunia berjumlah 29 Famili (Hanum et al., 2013). Odonata dibagi menjadi dua sub ordo yaitu sub ordo Zygoptera dan sub ordo Anisoptera (Lino et al. 2019). Kedua sub ordo tersebut dapat dibedakan dari bentuk tubuh dan matanya. Bentuk tubuh Anisoptera lebih besar dibandingkan Zygoptera. Bentuk mata pada Anisoptera menyatu sedangkan pada Zygoptera terpisah. Perilaku terbang Anisoptera memiliki wilayah jelajah yang lebih luas dibandingkan Zygoptera (Rahadi 2013).

Sumber: Puslit Biologi LIPI (2014) dalam Widjaja et al. (2014)

Keberadaan Capung Jarum di Indonesia

Keberadaan capung jarum sebagai salah satu serangga yang ada di bumi Nusantara sepertinya dianggap kurang "seksi" bila dibandingkan satwa jenis lain. Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/ SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa dilindungi, dari sekian banyak jenis serangga yang ada, yang masuk di dalam perlindungan hanyalah dari jenis kupu-kupu. Sementara capung jarum dan jenis lain yang memiliki peran di dalam keseimbangan ekologi belum mendapatkan perhatian khusus. Peran odonata, baik capung maupun capung jarum yang perlu diketahui antara lain sebagai bioindikator pencemaran lingkungan dan agen pengendali hayati (predator hama).

Capung Jarum di TWA Gunung Permisan

Libellago aurantiaca Kusumaningrum et al. (2022) menyatakan bahwa inventarisasi terhadap keragaman odonata di suatu wilayah dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan konservasi di wilayah tersebut. Di kawasan TWA Gunung Permisan ditemukan sekitar 25 jenis capung dari sub ordo Anisoptera (2 famili, 14 jenis) dan Zygoptera (6 famili, 11 jenis). Dari 25 jenis capung yang telah teridentifikasi tersebut, 21 jenis diantaranya merupakan jenis yang telah dinilai oleh The International Union for Conservation of Nature's Red List of Threatened Species (IUCN) dengan kategori Least Concern (resiko rendah). Jenis yang paling banyak ditemukan di TWA Gunung Permisan adalah Libellago aurantiaca. Dengan teridentifikasinya 25 jenis capung di kawasan TWA Gunung Permisan memberikan gambaran bahwa kawasan ini memiliki lingkungan yang masih relatif baik dan terjaga. Daftar jenis capung di TWA Gunung Permisan sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Ragam Capung di TWA Gunung Permisan

Sumber: Kusumaningrum et al. (2022)

Berdasarkan data dalam Tabel 1 diketahui bahwa odonata yang mendominasi kawasan TWA Gunung Permisan adalah dari sub ordo Anisoptera (capung jarum) Famili Libelluidae. Suhonen et al. (2010) dalam Pujiastuti et al. (2017) menyatakan bahwa keberadaan capung jarum dipengaruhi oleh k

AB

Ditulis oleh

Admin BKSDA

Kontributor

Call Center
Call Center